Kamis, 03 Maret 2011

SIKLUS KEUANGAN DUNIA


Keterangan
• Pinjaman B= 10 juta
• A= Deposito para nasabah
Ketika seseorang mempunyai uang ada motif yang dilakukan yaitu:
• Transaksi
• Berjaga-jaga
• Spekulasi
 Dapat dilihat bahwa posisi A dalam keadaan plus (surplus) atau kelebiahan uang/dana, dan B dalam keadaan minus atau kekurangan uang/ dana, sedangkan posisi bank adalah sebagai financial intermediary (perantara keuangan).
 Ketika posisi A dalam keadaan plus maka A meminjamkannya atau menaruh kelebihan tersebut pada bank, dan bank pun mencari nasabah untuk mempergunakan dana tersebut. hal ini posisi B dalam keadaan kekurangan dana dan B pun meminjam dana dari bank sebesar 10 juta, dengan syarat peminjaman uang yaitu dikenal /dipercaya atau sering disebut dengan coincidence.
 Dari hasil minjam-meminjam dana yang dilakukan oleh ke-3 pihak tersebut (A,B dan Bank) adapun bunga yang dapat diterima atau dibayar oleh masing-masing pihak yang terkait. Dimana A menerima i1= 5%, B harus membayar bunga kepada bank sebesar i2= 7%, sedangkan bank memperoleh bunga sebesar 2% yang didapat dari hasil/selisih (i2-i1), hal yang seperti ini di namakan Interest spread.
 Lain halnya apabila B meminjam dana langsung dari A yang mana bunga yang diterima lebih kecil (i3  Hasil bunga yang diterima A sebesar 6% dari B, maka A menaruh sebagian hasilnya dengan membeli saham ke pihak BEJ. Yang mana BEJ berperan sebagai Direct transaction (transaksi keuangan langsung). Keuntungan yang diperoleh dari menaruh saham itu adalah berupa deviden dan capital gain. Capital gain merupakan surat saham yang diperjual belikan dengan perbandingan harga yang ditawarkan.
 Kembali ke pembahasan sebelumya tentang risiko yang dihadapi pihak bank jika sewaktu-waktu B mengalami coleps. Bahwa dikatakan banklah yang harus menanggung semua kerugian yang ada kepada A. dalam hal ini bank pun mengikuti program asuransi XYZ yang mana harus membayar premi yang dianjurkan pada periode tertentu, hal ini dilakukan sebagai iuran tanda kepesertaan asuransi.
 Dalam keikutsertaan bank dalam program asuransi, maka apabila posisi B dalam keadaan yang koleps maka pihak asuransi pun mampu menanggung kerugian yang dihadapi pihak bank. Yaitu sebesar 2,5 juta dari peminjaman B sebesar 10 juta kepada bank. yang kemudian pihak asuransi pun melakukan hubungan atau kerjasama dengan asuransi KLM agar dapat ikut menanggung kerugian yang dihadapinya, hal yang seperti ini disebut dengan Reasuransi. Sisa kerugian yang dihadapi oleh asuransi KLM adalah sebesar 7,5 juta, sedangkan asuransi KLM hanya mampu menanggung kerugian sebesar 3 juta.
 Maka hal yang dilakukan oleh Asuransi KLM pun adalah dengan meminta bantuan kepada asuransi ASDEF yang berada di luar negeri, dan asuransi ASDEF pun mampu menanggung sisa kerugian yang di tanggung asuransi KLM sebesar 4,5 juta, hal ini dinamakan dengan Retrocessi.
 Selanjutnya adalah asuransi ASDEF membangun sebuah PT yang diberi nama dengan PT. ZKY yang mana PT tersebut ingin membeli saham dari BEJ melalui CLBK, sebagai pemberi informasi tentang jual beli saham yang dilakukan BEJ.
 Dalam hal ini PT. ZKY pun melakukan kerjasamanya pada INT.FOP (suatu perusahaan internasional) dengan membuat kartu kredit. Yang mana kartu kredit yang dibuat dapat digunakan oleh pihak bank.

NAMA : WISDA APRIANA
KELAS : 3EA10
NPM :11208294

Sabtu, 26 Februari 2011

MEMERIKSA EJAAN, TANDA BACA DAN LOGIKA (tulisan)

MEMERIKSA EJAAN, TANDA BACA DAN LOGIKA
Di bawah berikut ini merupakan kalimat dari penggalan paragraph dari suatu tajuk rencana.
Di Kabupaten Kebumen, seperti kita baca di halaman pertama harian ini Rabu (24/10) kemarin, telah terjadi banjir besar yang merendam area luas sehingga 18.000 penduduk Kabupaten tersebut harus diungsikan. Banjir itu sendiri disebabkan oleh hujan yang turun terus-menerus selama tiga hari.
Adakah kesalahan ejaan dalam kalimat tersebut? Apabila cermat membacanya, kamu akan menemukan kesalahan-kesalahan penggunaan ejaan, yaitu pada kata kabupaten.
Kata kabupaten pada kalimat tersebut tidak perlu menggunakan huruf capital karena tidak diikuti dengan nama tempat.
Cermatilah potongan paragraph di bawah ini:
Bukan sekedar sok bertekhnologi canggih, tetapi informasi tersebut benar-benar ingin kita manfaatkan untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya dalam menghadapi setiap kemungkinan bencana.
Adakah sesuatu yang salah dalam kalimat tersebut? Seandainnya mengamati dengan baik, kamu akan menemukan kesalahan adalah dalam kalimat tersebut.
Siapakah yang mempunyai keinginan dalam kalimat tersebut? Jelaslah, yang mempunyai keinginan dalam kalimat itu informasi, bukan kita. Untuk menghindari kesalahan berlogika, sebaiknya kata ingin tidak digunakan dalam kalimat pasif.
Penggunaan kata depan dari, di, ke dalam ejaan:
Kata depan di, ke, dari ketiganya menunjukan arah atau tempat.
di – berada pada suatu tempat
ke – menuju arah atau tempat
dari – menyatakan asal
perhatikan contoh pemakaiannya dalam kalimat:
a. Ayah tidak berada di rumah ketika seorang tamu datang.
b. Di toko banyak dijual berbagai barang.
c. Sepeninggal kedua orang tuannya, anak kecil itu berniat pulang ke kampung.
d. Kamu tidak pergi ke sekolah bersamanya.
e. Dari Jakarta tamu Negara berkunjung ke Bali.
f. Pelamar kerja yang beratus-ratus jumlahnya menunggu panggilan dengan sabar dari jam 8.00 hingga jam 14.00.

Ejaan: Menulis angka dan bilangan
Tentang penulisan angka dan bilangan kita ikuti apa yang tercantum dalam Pedoman Ejaan Yang Disempurnakan.
a. Angka lazim dipakai untuk menandai nomor jalan, rumah, apartemen atau kamar pada alamat.
Misalnya: Jalan Tanah Abang 1 No.15
Hotel Indonesia, Kamar 169
b. Angka digunakan juga untuk menomori karangan atau bagiannya
Misalnya: Bab X, Pasal 5, halaman 152
Surah Yasin:9
c. Penulisan lambang bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut:
• Bilangan utuh
Misalnya: 12 dua belas
22 dua puluh dua
• Bilangan pecahan
Misalnya: ½ setengah
¾ tiga perempat


Sumber: Ganeca Excact Bandung, Dra. Suparni
Yudistira, P. Tukan, S.pd.

NAMA : WISDA APRIANA
KELAS : 3EA10
NPM : 11208294

Menggunakan kalimat bentuk aktif dan pasif dengan memperhatikan ketetapan bentuk dan strukturnya (tulisan)

Menggunakan kalimat bentuk aktif dan pasif dengan memperhatikan ketetapan bentuk dan strukturnya.
Perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini:
1. a. Kami tegaskan bahwa kami bersedia mengadakan kesepakatan.
b. Kami menegaskan bahwa kami bersedia mengadakan kesepakatan.
2. a. Apakah belum kamu ketahui bahwa tes sumatif akan segera berlangsung?
b. Kami mengetahui bahwa tes sumatif akan segera berlangsung.
3. a. Persoalannya saya serahkan kepada ketua OSIS.
b. Saya menyerahkan persoalan itu sepenuhnya kepada ketua OSIS.
Masih sering dikacaukan bentuk-bentuk kalimat 1a, 2a, 3a dengan kalimat 1b, 2b, dan 3b. Bila pertanyaan diajukan: apa subjek dari kalinat-kalimat di atas, banyak yang menjawab: kami (kalimat 1a dan 1b), kamu (kalimat 2a dan 2b), saya (kalimat 3a dan 3b). Apa benar demikian?
Untuk kalimat no. 1b, 2b, dan 3b memang benar. Sedang untuk kalimat 1a, 2a, dan 3a:kami, kamu dan saya bukan subjek. Mari kita telaah lebih lanjut.

Bentuk kalimat pasif
Kalimat pasif secara tradisional dapat dinyatakan dengan:
1. ku, kau di
Telah kuterima kiriman buku itu.
Telah kauterima kiriman buku itu.
Telah diterimakiriman buku itu.

2. saya, engkau, dia
Keterangan pemerintah telah saya pahami.
Keterangan pemerintah telah engkau pahami.
Keterangan pemerintah telah dia pahami.
(bentuk yang berakhir ini tidak baku)
3. perfiks ter-
Pengumuman tertulis besar-besar di papan tulis.
Bentuk no.1 dan no.2 pada hakekatnya sama juga. Hanya saja bentuk no.1 merupakan bentuk ringkas: ku dari aku, kau dari engkau, dan di (secara teoritis) dari dia.
Bentuk no.2 menimbulkan variasi sehingga kita jumpai kalimat-kalimat:
Keterangan pemerintah telah kami pahami.
Keterangan pemerintah telah kamu pahami.
Dari uraian di atas jelas bahwa bentuk-bentuk seperti saya pahami, engkau pahami, kami pahami, dan kamu pahami merupakan bentuk pasif. Oleh sebab itu harus benar-benar dibedakan dengan bentuk saya memahami, engkau memahami, kami memahami, dan kamu memahami, yang merupakn bentuk aktif.
Hubungan antara saya, engkau, kami, kamu dengan kata kerja yang mengikutinya dalam bentuk pasif sangat erat. Seperti halnya hubungan antara ku, kau di dengan kata kerja yang mengikutinya. Hubungan itu sangat erat dan tidak dapat dissipkan suatu kata pun diantaranya, termasuk kata-kata penunjuk aspek yang sering kita jumpai dalam kebahasan sehari-hari. Masalah inilah yang sering dilupakan, sehingga tidak heran kita jumpai kalimat-kalimat seperti:
Saya telah katakana hal itu kepadanya.
Kamu belum tuliskan nama pada kertas ujianmu
Kami akan jelaskan kejadian itu nanti.
Kalimat itu harus diubah menjadi:
Telah saya katakana hal itu kepadanya.
Belum kamu tuliskan nama pada kertas ujianmu.
Kejadian itu akan kami jelaskan nanti.
Bagaimana pendapat anda dengan kalimat di bawah ini:
Pemerintah telah umumkan bahwa libur semester akan jatuh pada pertengahan bulan Desember.
Tentu anda berpendapat bahwa kalimat itu salah. Dan memang benar. Kalimat itu harus diperbaiki menjadi:
Pemerintah telah mengumumkan bahwa libur semester akan jatuh pada pertengahan bulan Desember (kalimat aktif)
Atau
Telah diumumkan oleh pemerintah bahwa libur semester akan jatuh pada pertengahan bulan Desember (kalimat pasif)
Suatu hal lagi perlu diperbincangkan di sini ialah bentuk pasif pelaku pertama tunggal (saya…), pasif pelaku pertama jamak (kami…) dan pasif pelaku kedua (kamu…).
Novel Salah Asuhan telah dibaca oleh saya.
Tugas kelompok telah dikerjakan oleh kami.
Apakah telah dicatat oleh kamu keterangan tadi?
Pada contoh-contoh ini kita lihat penggunaan kalimat pasif dibaca oleh saya, dikerjakan oleh kami, dicatat oleh kamu, yang merupakan gabungan bentuk pasif pelaku ketiga (dengan di) dengan bentuk pasif pelaku kesatu (dengan saya dan kami) dan bentuk pasif pelaku kedua (dengan kamu). Dengan sendirinya: dibaca oleh saya, dikerjakan oleh kami, dan dicatat oleh kamu merupakan bentuk yang rancu, yang harus dihindari. Kalimat di atas di perbaiki menjadi:
Novel Salah Asuhan telah saya baca.
Tugas kelompok telah kami kerjakan.
Apakah telah kamu catat keterangan tadi?

Sumber : GANECA EXACT BANDUNG
Karangan: Dra.Suparni
NAMA : WISDA APRIANA
KELAS : 3EA10
NPM : 11208294

JENIS-JENIS KARANGAN DALAM BAHASA INDONESIA (tugas)

JENIS-JENIS KARANGAN DALAM BAHASA INDONESIA
Dalam bahasa Indonesia terdapat tiga jenis karangan yaitu :
• Karangan ilmiah
• Karangan semi ilmiah
• Dan karangan non ilmiah
1. KARANGAN ILMIAH
Ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodolog penulisan yang baik dan benar. Adapun jenis karangan ilmiah yaitu:
• Makalah: karya tulis yang menyajikan suatu masalah yang pembahasannya berdasarkan data di lapangan yang bersifat empiris-objektif (menurut bahasa, makalah berasal dari bahasa Arab yang berarti karangan).
• Kertas kerja: makalah yang memiliki tingkat analisis lebih serius, biasanya disajikan dalam lokakarya.
• Skripsi: karya tulis ilmiah yang mengemukakan pendapat penulis berdasar pendapat orang lain.
• Tesis: karya tulis ilmiah yang sifatnya lebih mendalam daripada skripsi.
• Disertasi: karya tulis ilmiah yang mengemukakan suatu dalil yang dapat dibuktikan oleh penulis berdasar data dan fakta yang sahih dengan analisi yang terinci.
2. KARANGAN SEMI ILMIAH
Semi Ilmiah adalah karangan ilmu pengatahun yang menyajikan fakta umum dan menurut metodologi panulisan yang baik dan benar, ditulis dengan bahasa konkret, gaya bahasanya formal, kata-katanya tekhnis dan didukung dengan fakta umum yang dapat dibuktikan benar atau tidaknya atau sebuah penulisan yang menyajikan fakta dan fiksi dalam satu tulisan dan penulisannyapun tidak semiformal tetapi tidak sepenuhnya mengikuti metode ilmiah yang sintesis-analitis karena sering di masukkan karangan non-ilmiah. Maksud dari karangan non-ilmiah tersebut ialah karena jenis Semi Ilmiah memang masih banyak digunakan misal dalam komik, anekdot, dongeng, hikayat, novel dan roman. Karakteristiknya berada diantara ilmiah dan non ilmiah. Contohnya seperti:
editorial, opini, reportase, artikel.

3. KARANGAN NON ILMIAH
Non Ilmiah (Fiksi) adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta pribadi dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. Satu ciri yang pasti ada dalam tulisan fiksi adalah isinya yang berupa kisah rekaan. Kisah rekaan itu dalam praktik penulisannya juga tidak boleh dibuat sembarangan, unsur-unsur seperti penokohan, plot, konfliks, klimaks, setting.
DAFTAR PUSTAKA
• www.google.com


nama: wisda apriana
kelas : 3ea10
npm : 11208294

Jumat, 18 Februari 2011

PENALARAN INDUKTIF DAN DEDUKTIF (BAHASA INDONESIA)

PENALARAN INDUKTIF DAN DEDUKTIF
Bernalar adalah suatu proses berpikir yang menyangkut cara mengambil/menarik suatu kesimpulan sebagai suatu pengetahuan menurut suatu alur atau kerangka berpikir tertentu. Menurut Jujun Suriasumantri, Penalaran adalah suatu proses berfikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan.
Dan didalam penalaran itu sendiri mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
• Dapat berfikir secara logis
• Mempunyai sifat analitik dari proses berfikirnya
Dan pengetahuan yang di peroleh dari suatu penalaran dapat bersumber dari rasio dan fakta.
Rasio merupakan sumber penalaran yang mengembangkan paham rasionalisme, sedangkan fakta merupakan sumber penalaran yang mengembangkan paham empirisme.
Dalam hal ini penalaran dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
a) Penalaran Induktif
Proses penarikan kesimpulan yang umum (berlaku untuk semua/banyak) atas dasar pengetahuan tentang kasus-kasus individual (khusus). Penalaran induktif berkaitan erat dengan pengamatan inderawi (observasi) atas kasus-kasus sejenis lalu disusunlah pernyataan-pernyataan yang sejenis pula sebagai dasar untuk menarik kesimpulan yang berlaku umum.
b) Penalaran Deduktif
Dalam penalaran deduktif, penarikan kesimpulan bertitik tolak dari penyataan-pernyataan yang bersifat umum, kita menarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif memakai pola berpikir yang disebut silogisme. Silogisme adalah argumentasi yang terdiri dari tiga penyataan. Dalam silogisme itu, dari dua penyataan yang sudah diketahui (premis), kita turunkan pernyataan yang ketiga (kesimpulan).
Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status social.
Berikut merupakan perbedaan yang terdapat pada penalaran induktif dan deduktif :
Induktif Deduktif
Proses pemikiran yang di dalamnya akal kita bertolak dari pengetahuan tentang beberapa kejadian/peristiwa/hal yang lebih konkret atau “khusus” lalu menyimpulkan hal yang lebih “umum”. Proses pemikiran yang di dalamnya akal kita bertolak dari pengetahuan yang lebih “umum” untuk menyimpulkan hal yang lebih “khusus”.
Kesimpulan dalam penalaran induktif bersifat generalisasi, sintesis karena itu tidak menjamin kepastian mutlak. Kesimpulan dalam penalaran deduktif bersifat analitis karena itu pasti seratus persen kalau argumentasinya sahih dari sudut logika formal.
Penalaran induktif tidak bersifat sahih/tidak sahih melainkan apakah satu penalaran induktif lebih probabel (tergantung sampel yang dijadikan alasan penyimpulan) dari yang lain. Tinggi rendahnya kadar kebolehjadian dalam kesimpulan bergantung pada alasan. Kalau alasan cukup, kesimpulan benar, kalau alasan tidak cukup kesimpulan mungkin benar. Penalaran deduktif bersifat sahih kalau kesimpulan relevan pada alasan/premis atau tidak sahih kalau kesimpulan tidak relevan pada proses.
Penalarn induktif tidak bisa siap dipakai untuk membenarkan induksi. Penalaran deduktif adalah dasar untuk membangun dan menilai prinsip-prinsip ilmu pengetahuan.


Penutup
Penalaran ilmiah pada hakikatnya merupakan gabungan dari penalaran deduktif dan induktif. Dimana lebih lanjut penalaran deduktif terkait dengan rasionalisme dan penalaran induktif dengan empirisme. Secara rasional ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif, sedangkan secara empiris ilmu memisahkan antara pengetahuan yang sesuai fakta dengan yang tidak.
Daftar pustaka
• Jujun S. Suriasumantri. Ilmu dalam Persfektif. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2005
• www.google.com

Rabu, 29 Desember 2010

BAB V METODE RISET

BAB V

Kesimpulan
1. Ada pengaruh yang signifikan dari motivasi, persepsi, sikap dan pembelajaran konsumen terhadap keputusan pembelian pada suatu produk makanan.
2. Terdapat pengaruh signifikan dari keandalan dan empati pada kepuasan konsumen.

BAB IV METODE RISET

BAB IV

Hasil dan Pembahasan

Tampak pada tabel yang ada pada bab tiga yaitu tabel regresi bahwa koefisien determinasi (Adj.R2) sebesar 0,428 yang berarti bahwa 42,8% variabelitas varibel keputusan pembelian dapat diterangkan oleh variabel bebas atau prediktornya yaitu motivasi, persepsi, sikap, dan pembelajaran, sedangkan sumbangan dari variabel lain sebesar 57,2%, misalnya dari faktor pribadi yang meliputi gaya hidup dan kepribadian atau faktor sosial yang meliputi peran, status, dan sebagainya.
Sedangkan koefisien korelasi berganda (R) sebesar 0,663 dapat diartikan bahwa antara variabel motivasi, persepsi, sikap dan pembelajaran konsumen secara signifikan mempunyai hubungan yang positif terhadap keputusan pembelian dengan Standart Error of Estimate (SEE) adalah 1,438. Dimana makin kecil SEE akan membuat model persamaan semakin tepat dalam memprediksi variabel dependen.
Suatu data dapat dikatakan berpengaruh signifikan, apabila nilai t-hitung dengan signifkan 5%. Berikut adalah hasil yang dapat diperoleh.
• Pada variabel (X1) yaitu motivasi diperoleh t-hitung sebesar 2.106 lebih besar dari nilai t-tabelnya 1.972. Yang artinya pada variabel motivasi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keputusan konsumen dalam membeli.
• Pada variabel (X2) yaitu persepsi mempunyai t-hitung sebesar 5.675 lebih besar dari nilai t-tabelnya 1.972. Yang artinya variabel persepsi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keputusan untuk membeli.\
• Pada variabel (X3) yaitu sikap mempunyai t-hitung sebesar 3.917 labih besar dari nilai t-tabelnya 1.972 Yang artinya pada variabel sikap juga mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keputusan konsumen untuk membeli.
• Pada variabel (X4) yaitu pembelajaran mempunyai t-hitung sebesar 2.981 lebih besar dari nilai t-tabelnya 1.972. Yang artinya pada variabel pembelajaran pun mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keputusan konsumen dalam membeli.41

Sedangkan hasil perhitungan pada tabel 2 yang terdapat pada bab tiga dengan analisis jalur dapat diketahui bahwa yang mempunyai pengaruh signifikan pada kualitas pelayanan adalah variabel keandalan dan variabel empati karena mempunyai nilai p < 0.05. Pada kolom p terlihat angka (0.002, 0.001) di bawah angka 0.05. Hal ini menunjukkan pada tingkat signifikansi 5% variabel keandalan dan empati berpengaruh signifikan pada kualitas pelayanan. Kualitas pelayanan mempunyai pengaruh signifikan pada kepuasan konsumen., karena mempunyai nilai p < 0.05. Pada kolom p, terlihat nilai p adalah ***. Hal ini menunjukkan angka p adalah 0.000, yang jauh di bawah 0.05. karena itu Ho ditolak, atau pada pengujian nilai estimate kualitas dengan kepuasan dapat dikatakan memang ada pengaruh yang nyata diantara keduanya.
Dan suatu data juga dapat dikatakan mempunyai pengaruh yang signifikan apabila nilai p lebih kecil dari 0.05 Berikut adalah hasil yang dapat diperoleh.
• Pada variabel (X1) yaitu kualitas pelayanan mempunyai nilai p sebesar 0.00 lebih kecil dari 0.05 yang artinya variabel kualitas pelayanan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan konsumen.
• Pada variabel (X2) yaitu keandalan mempunyai nipali p sebesar 0.002 lebih kecil dari 0.05 yang artinya pada variabel keandalan mempunyai pengaruh yang signifikan tehadap kepuasan konsumen.
• Pada variabel (X3) yaitu ketanggapan mempunyai nilai p sebesar 0.159lebih besar dari 0.05 yang artinya pada varibel ketanggapan tidak berpengaruh signifikan terhadap kepuasan konsumen.
• Pada variabel (X4) yaitu keyakinan mempunyai nilai p sebesar 0.192 lebih besar dari 0.05. yang artinya pada variabel keyakinan tidak berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kosumen.
• Pada variabel (X5) yaitu empati diperoleh nilai p sebesar 0.001 lebih kecil dari 0.05. yang artinya pada variabel empati terdapat pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan konsumen
• Pada variabel (X6) yaitu keberwujudan diperoleh nilai p sebesar 0.056 lebih besar dari 0.05 yang artinya pada variabel keberwujudan tidak berpengaruh signifikan terhadap kepuasan konsumen.